Saturday, November 27, 2010


Konsep jemuran dan puppet dirumuskan bersama : Silvia Anugrah Dewanti, Chitra Fadilla Dzulfia, dan Dini Nuraeni. Foto diambil saat Hunting Super Wow #2 LFM di sekitar kampus ITB.

Thursday, November 25, 2010

G-Nite!

G-Nite adalah malam perayaan Dies Natalis IMA-G. Dress code nya : what do you think of the future. Kostum gue agak-agak ga niat karena bikinnya cuma setengah jam sebelum acara. Gue bikin rok dari trash bag gitu. Tapi banyak yang super niat dan keren-keren bajunya!


Dua kostum yang paling gue suka, kostum Mance, dress dari koran, dan kostum Kak Opi, Kak Monica, Kak Emmy, dan Kak Marsya yang setema.


All pictures credit to Ridwan Fauzi.

Sunday, November 14, 2010

I'm Waiting, Where The Hell Are You?



Talent : Zahra Ratnasari
Thanks to Dini Nuraeni.

Tuesday, November 9, 2010

A Thought While Buying Iced Thai Tea at Tamani Express PIM

Mainstream is, generally, the common current thought of the majority. However, the mainstream is far from cohesive; rather the concept is often considered a cultural construct. It is a term most often applied in the arts. (i.e., music, literature, and performance). This includes:

  • something that is available to the general public;
  • something that has ties to corporate or commercial entities.
Saya sejak dulu ngeh dengan istilah bernama mainstream, tapi saya baru mengerti konsep dan menggunakan istilah ini sehari-hari sejak saya dan mantan pacar saya mengobrol tentang ini tahun lalu. Waktu itu kami mengobrol tentang konsep mainstream-sidestream. Kata dia, saya mainstream karena saya suka musik, serial tv, dll yang memang populer. Apa yang salah dengan itu? Ya, memang tidak ada.

Saya pribadi kurang suka dengan sesuatu yang terlalu digembargemborkan. Hal ini sering terjadi pada serial tv, film, dll yang mainstream. Bukan apa-apa, sesuatu yang terlalu sering diberitakan, dibicarakan dimana-mana membuat bosan orang-orang yang mendengarnya. Well, saya khususnya. Kalau hanya sekedar film atau serial tv atau band, saya masih bisa mengerti. Saya juga melakukan itu, kok. Yang saya tidak mengerti adalah fashion yang mainstream.

Saya kemarin datang ke PIM dan melihat satu mall penuh dengan remaja-remaja yang bergaya sama, terutama yang perempuan. Mereka semua datang dalam kelompok-kelompok, berdandan serupa : rambut belah tengah, shorts atau skinny jeans, dan menenteng blackberry. Mereka remaja-remaja dengan cetakan sama, bergaya persis model-model di halaman fashion GoGirl!. Sebenarnya semua itu bukan masalah besar. Saya juga kadang membaca GoGirl! dan majalah itu bagus. Yang saya bingung adalah kenapa mereka semua harus berdandan serupa? Saya sih kurang suka disamakan dengan orang lain. Apalagi kalau berpenampilan sama dengan orang lain.

Menurut saya, penampilanpakaian, gaya rambut, dllmencerminkan kepribadian kita. Tidak harus fashionable, penampilan akan selalu menarik dan enak dilihat asal cocok dengan orang yang memakainya. Tapi apa jadinya kalau hal yang mencerminkan kepribadian kita sama dengan orang lain?

Teman saya, Naila Zahra, menulis di blognya :
Define ‘mainstream’! What is wrong about being one?? You, people, just so obsessed about being trendsetter.
Saya bukan bicara tentang menjadi trendsetter. Saya bicara tentang mencari sesuatu yang beda dari diri kita, sesuatu yang dapat diingat oleh orang lain tentang kita.
Saya bicara tentang mencari ciri khas kita.

Karena siapa yang mau diingat sebagai orang yang biasa? Sebagai orang yang sama dengan orang lain? Karena semua orang ingin diingat sebagai dirinya.



P.S. Maaf kalau saya terdengar dangkal karena hanya membicarakan penampilan. Tapi, menurut saya, penampilan adalah bagian dari kepribadian kita. Terima kasih.

definisi mainstream dari Wikipedia
 

blogger templates | Make Money Online