Sunday, October 31, 2010

It's just another morning at a train station


Everybody was getting ready, before the train left the station. The passengers, the washers, the train attendants, even the photographer.


Don't keep people waiting, my dear train.


Off you go.

Sunday, October 24, 2010

Red (2010)

Keputusan menonton Red hari Jumat kemarin sebenarnya agak random. Saya, Ghina, dan Faika awalnya ingin menonton Wall Street, tapi karena di Ciwalk udah ga ada dan jam 3 harus balik ke Sabuga buat gladi wisuda, kami akhirnya memutuskan nonton Red dengan aktor-aktornya sebagai satu-satunya pertimbangan. Maklum, ada Bruce Willis, Morgan Freeman, dan Helen Mirren dalam daftar cast-nya. Nampaknya film ini menjanjikan.

Jadi film ini menceritakan tentang Frank Moses (Bruce Willis), seorang pensiunan CIA yang tiba-tiba dikejar-kejar sekelompok orang tak dikenal yang ingin membunuhnya. Dia buru-buru menyelamatkan Sarah (Mary-Louise Parker), operator telepon yang nyawanya terancam karena Frank menyukai dia dan sering menelponnya. Dalam usahanya untuk menyelamatkan diri dan mencari tahu siapa yang ingin membunuhnya, Frank bertemu dengan teman-teman lamanya yang dulu bertugas bersamanya di CIA : Joe (Morgan Freeman), Marvin (John Malkovich), Ivan (Brian Cox), dan Victoria (Helen Mirren).

Sebenarnya film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru dari segi cerita. Saya teringat The A-Team dan The Losers saat menonton film ini. Yang membedakan adalah dialog yang pendek-pendek tapi mengena. Humor pun muncul dengan sendirinya, tanpa dibuat-buat. Siapa yang tidak tertawa menyaksikan Marvin mengeluarkan senjata berat dari boneka babi atau saat Sarah menceritakan novel harlequin dengan semangat tinggi atau saat Victoria mengenakan sepatu boots dibawah dress putih yang anggun. Hubungan cinta antara Frank-Sarah dan Victoria-Ivan yang tidak menye-menye dan tembak langsung juga berhasil membuat penonton (terutama perempuan) tersenyum dan menyerukan, "So sweet!".

Untuk itu juga, saya sangat memuji aktor-aktor dalam film ini. John Malkovich berperan sangat baik sebagai Marvin, pembunuh yang efektif, tapi sangat paranoid sehingga kadang terlihat konyol. Saya sampai tidak mengenali beliau sebelum saya membaca daftar cast di akhir film. Mary-Louise Parker--saya bahkan baru tahu namanya setelah menonton film ini--membawa sesuatu yang baru dan segar di antara deretan cast yang sudah veteran. Saya, khususnya, sangat menyukai karakter Victoria di film ini. Helen Mirren, entah bagaimana, berhasil terlihat keren saat menembaki sekompi pasukan dalam dress. Tapi, akting Bruce Willis agak membosankan dan dibuat-buat. Kekurangan ini untungnya, masih dapat diselamatkan oleh aktor-aktor lain.

Sinematografi film ini juga patut dipuji. Ah, angle-angle pengambilan gambar yang tidak biasa tapi tetap menarik. Kartu pos yang menandai setiap mereka berpindah kota. Semua ini, digabung dengan dialog yang mengena dan akting yang oke berhasil membuat film ini menyenangkan untuk ditonton.

Film ini bukan film yang akan membuat penonton tercengang saat menontonnya dan berpikir setelahnya, film ini adalah film yang membuat penonton tersenyum sepanjang film dan merasa senang setelah menontonnya. Tonton dan tersenyumlah!

Monday, October 11, 2010

Sunny Sunday in ITB

Saya merasa beruntung dapat menjadi bagian dari Pasar Seni ITB 2010 kemarin. Jadi panitia lagi. Semua ini karena LFM diminta jadi dokumentasi oleh panitia Pasar Seni. Jadilah saya bisa dapat all access ke Pasar Seni. Yang paling menyenangkan tentu saja : bisa nonton Frau tanpa ngantri dan plus foto bareng juga pula (y). Yah, walaupun tempat tugas saya, Jalan Ganeca, panasnya kayak neraka, gara-gara pawang hujannya terlalu sukses sampai langit kosong tanpa awan, saya tetep senang bisa mendokumentasikan Pasar Seni.

Kostum saya selama Pasar Seni, ditambah kamera Canon 1000D saya.

Dibawah adalah beberapa foto dari ratusan foto yang saya ambil di Jalan Ganeca.

Trashion, desain dari Ichwan Toha.

sertifikat Sarjana Sehari Pasar Seni

kanan : aksi peduli Munir
kiri : crowd dari arah boulevard ke Gerbang Ganesha

Ababil Attack

Umaku Eisha yang heboh

Ini cuma sebagian kecil dari Pasar Seni, cuma di Jalan Ganeca. Acara Pasar Seni masih banyaak, sampai memakan lahan setengah ITB. Dari tas dan sepatu yang bagus-bagus, dijual di stand-stand, sampai bikin hampir gila, sampai Lorong Ilusi Waktu dan vibratornya. Wah pokoknya kalo ga dateng, nyesel banget. Harus nunggu empat tahun lagi.

Udah deh, gitu dulu. Sekarang saya harus kembali ke realita studio dan UTS. See you folks!

~Marilah manusia datang semua
Berkumpul semua di Jalan Ganeca
Pakailah baju dan pakai celanamu
Bawa orang bawa uang dan jangan hilang
Pasar adalah seni adalah ITB adalah Pasar Seni ITB
Dan jangan ada banyak pertanyaan
Pokoknya jayalah Pasar Seni ITB~
 

blogger templates | Make Money Online