Monday, December 27, 2010

Chocolate

thrifted blazer, Zara tee, brown pants can be found in any store in BTC, and U! blooming boots.

Monday, December 13, 2010

Hunting Super Wow #2

Jemuran Jatuh Cinta
Talent : Sasti Safitri dan M Ismail Abdullah


In Between
Talent : M Ismail Abdullah

The Puppet
Talent : Chandra Goldie

Friday, December 3, 2010

My Years

2009 is arguably the best year of my life so far. I got into the best university in my country. I met my new family, my best friends so far, in LFM. And, well, I finally know how it feels like to be in a relationship with someone I love. I left 2009 with laughs and smiles.

2010 is probably the toughest year of my life, well, so far. 2010 can win over 2005 and 2006 in that matter. I broke my heart, twice, with the same person. I experienced osjur and finally being part of IMA-G. I finally know how hard it takes to be an architecture student, let alone an architect. I cried a lot this year, I feel like throwing up all the time. There's time when I feel like life is unfair and I didn't get what I deserved. But when I learned to accept what reality is, how life is not always like what I want, that's when I'm matured. I'm not saying I like it, but I do need it. I now know what the words "what you want is not always what you need" really mean. So, now, I dare to say, I'll left this year with laughs and smiles too and I will greet 2011 as just another year to learn a lot, laugh a lot, love a lot, maybe a little tears, but that's okay. 2009 maybe made my dreams come true, but 2010, you're the reality I live everyday. So, thank you, 2010! I'll always remember you.

Saturday, November 27, 2010


Konsep jemuran dan puppet dirumuskan bersama : Silvia Anugrah Dewanti, Chitra Fadilla Dzulfia, dan Dini Nuraeni. Foto diambil saat Hunting Super Wow #2 LFM di sekitar kampus ITB.

Thursday, November 25, 2010

G-Nite!

G-Nite adalah malam perayaan Dies Natalis IMA-G. Dress code nya : what do you think of the future. Kostum gue agak-agak ga niat karena bikinnya cuma setengah jam sebelum acara. Gue bikin rok dari trash bag gitu. Tapi banyak yang super niat dan keren-keren bajunya!


Dua kostum yang paling gue suka, kostum Mance, dress dari koran, dan kostum Kak Opi, Kak Monica, Kak Emmy, dan Kak Marsya yang setema.


All pictures credit to Ridwan Fauzi.

Sunday, November 14, 2010

I'm Waiting, Where The Hell Are You?



Talent : Zahra Ratnasari
Thanks to Dini Nuraeni.

Tuesday, November 9, 2010

A Thought While Buying Iced Thai Tea at Tamani Express PIM

Mainstream is, generally, the common current thought of the majority. However, the mainstream is far from cohesive; rather the concept is often considered a cultural construct. It is a term most often applied in the arts. (i.e., music, literature, and performance). This includes:

  • something that is available to the general public;
  • something that has ties to corporate or commercial entities.
Saya sejak dulu ngeh dengan istilah bernama mainstream, tapi saya baru mengerti konsep dan menggunakan istilah ini sehari-hari sejak saya dan mantan pacar saya mengobrol tentang ini tahun lalu. Waktu itu kami mengobrol tentang konsep mainstream-sidestream. Kata dia, saya mainstream karena saya suka musik, serial tv, dll yang memang populer. Apa yang salah dengan itu? Ya, memang tidak ada.

Saya pribadi kurang suka dengan sesuatu yang terlalu digembargemborkan. Hal ini sering terjadi pada serial tv, film, dll yang mainstream. Bukan apa-apa, sesuatu yang terlalu sering diberitakan, dibicarakan dimana-mana membuat bosan orang-orang yang mendengarnya. Well, saya khususnya. Kalau hanya sekedar film atau serial tv atau band, saya masih bisa mengerti. Saya juga melakukan itu, kok. Yang saya tidak mengerti adalah fashion yang mainstream.

Saya kemarin datang ke PIM dan melihat satu mall penuh dengan remaja-remaja yang bergaya sama, terutama yang perempuan. Mereka semua datang dalam kelompok-kelompok, berdandan serupa : rambut belah tengah, shorts atau skinny jeans, dan menenteng blackberry. Mereka remaja-remaja dengan cetakan sama, bergaya persis model-model di halaman fashion GoGirl!. Sebenarnya semua itu bukan masalah besar. Saya juga kadang membaca GoGirl! dan majalah itu bagus. Yang saya bingung adalah kenapa mereka semua harus berdandan serupa? Saya sih kurang suka disamakan dengan orang lain. Apalagi kalau berpenampilan sama dengan orang lain.

Menurut saya, penampilanpakaian, gaya rambut, dllmencerminkan kepribadian kita. Tidak harus fashionable, penampilan akan selalu menarik dan enak dilihat asal cocok dengan orang yang memakainya. Tapi apa jadinya kalau hal yang mencerminkan kepribadian kita sama dengan orang lain?

Teman saya, Naila Zahra, menulis di blognya :
Define ‘mainstream’! What is wrong about being one?? You, people, just so obsessed about being trendsetter.
Saya bukan bicara tentang menjadi trendsetter. Saya bicara tentang mencari sesuatu yang beda dari diri kita, sesuatu yang dapat diingat oleh orang lain tentang kita.
Saya bicara tentang mencari ciri khas kita.

Karena siapa yang mau diingat sebagai orang yang biasa? Sebagai orang yang sama dengan orang lain? Karena semua orang ingin diingat sebagai dirinya.



P.S. Maaf kalau saya terdengar dangkal karena hanya membicarakan penampilan. Tapi, menurut saya, penampilan adalah bagian dari kepribadian kita. Terima kasih.

definisi mainstream dari Wikipedia

Sunday, October 31, 2010

It's just another morning at a train station


Everybody was getting ready, before the train left the station. The passengers, the washers, the train attendants, even the photographer.


Don't keep people waiting, my dear train.


Off you go.

Sunday, October 24, 2010

Red (2010)

Keputusan menonton Red hari Jumat kemarin sebenarnya agak random. Saya, Ghina, dan Faika awalnya ingin menonton Wall Street, tapi karena di Ciwalk udah ga ada dan jam 3 harus balik ke Sabuga buat gladi wisuda, kami akhirnya memutuskan nonton Red dengan aktor-aktornya sebagai satu-satunya pertimbangan. Maklum, ada Bruce Willis, Morgan Freeman, dan Helen Mirren dalam daftar cast-nya. Nampaknya film ini menjanjikan.

Jadi film ini menceritakan tentang Frank Moses (Bruce Willis), seorang pensiunan CIA yang tiba-tiba dikejar-kejar sekelompok orang tak dikenal yang ingin membunuhnya. Dia buru-buru menyelamatkan Sarah (Mary-Louise Parker), operator telepon yang nyawanya terancam karena Frank menyukai dia dan sering menelponnya. Dalam usahanya untuk menyelamatkan diri dan mencari tahu siapa yang ingin membunuhnya, Frank bertemu dengan teman-teman lamanya yang dulu bertugas bersamanya di CIA : Joe (Morgan Freeman), Marvin (John Malkovich), Ivan (Brian Cox), dan Victoria (Helen Mirren).

Sebenarnya film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru dari segi cerita. Saya teringat The A-Team dan The Losers saat menonton film ini. Yang membedakan adalah dialog yang pendek-pendek tapi mengena. Humor pun muncul dengan sendirinya, tanpa dibuat-buat. Siapa yang tidak tertawa menyaksikan Marvin mengeluarkan senjata berat dari boneka babi atau saat Sarah menceritakan novel harlequin dengan semangat tinggi atau saat Victoria mengenakan sepatu boots dibawah dress putih yang anggun. Hubungan cinta antara Frank-Sarah dan Victoria-Ivan yang tidak menye-menye dan tembak langsung juga berhasil membuat penonton (terutama perempuan) tersenyum dan menyerukan, "So sweet!".

Untuk itu juga, saya sangat memuji aktor-aktor dalam film ini. John Malkovich berperan sangat baik sebagai Marvin, pembunuh yang efektif, tapi sangat paranoid sehingga kadang terlihat konyol. Saya sampai tidak mengenali beliau sebelum saya membaca daftar cast di akhir film. Mary-Louise Parker--saya bahkan baru tahu namanya setelah menonton film ini--membawa sesuatu yang baru dan segar di antara deretan cast yang sudah veteran. Saya, khususnya, sangat menyukai karakter Victoria di film ini. Helen Mirren, entah bagaimana, berhasil terlihat keren saat menembaki sekompi pasukan dalam dress. Tapi, akting Bruce Willis agak membosankan dan dibuat-buat. Kekurangan ini untungnya, masih dapat diselamatkan oleh aktor-aktor lain.

Sinematografi film ini juga patut dipuji. Ah, angle-angle pengambilan gambar yang tidak biasa tapi tetap menarik. Kartu pos yang menandai setiap mereka berpindah kota. Semua ini, digabung dengan dialog yang mengena dan akting yang oke berhasil membuat film ini menyenangkan untuk ditonton.

Film ini bukan film yang akan membuat penonton tercengang saat menontonnya dan berpikir setelahnya, film ini adalah film yang membuat penonton tersenyum sepanjang film dan merasa senang setelah menontonnya. Tonton dan tersenyumlah!

Monday, October 11, 2010

Sunny Sunday in ITB

Saya merasa beruntung dapat menjadi bagian dari Pasar Seni ITB 2010 kemarin. Jadi panitia lagi. Semua ini karena LFM diminta jadi dokumentasi oleh panitia Pasar Seni. Jadilah saya bisa dapat all access ke Pasar Seni. Yang paling menyenangkan tentu saja : bisa nonton Frau tanpa ngantri dan plus foto bareng juga pula (y). Yah, walaupun tempat tugas saya, Jalan Ganeca, panasnya kayak neraka, gara-gara pawang hujannya terlalu sukses sampai langit kosong tanpa awan, saya tetep senang bisa mendokumentasikan Pasar Seni.

Kostum saya selama Pasar Seni, ditambah kamera Canon 1000D saya.

Dibawah adalah beberapa foto dari ratusan foto yang saya ambil di Jalan Ganeca.

Trashion, desain dari Ichwan Toha.

sertifikat Sarjana Sehari Pasar Seni

kanan : aksi peduli Munir
kiri : crowd dari arah boulevard ke Gerbang Ganesha

Ababil Attack

Umaku Eisha yang heboh

Ini cuma sebagian kecil dari Pasar Seni, cuma di Jalan Ganeca. Acara Pasar Seni masih banyaak, sampai memakan lahan setengah ITB. Dari tas dan sepatu yang bagus-bagus, dijual di stand-stand, sampai bikin hampir gila, sampai Lorong Ilusi Waktu dan vibratornya. Wah pokoknya kalo ga dateng, nyesel banget. Harus nunggu empat tahun lagi.

Udah deh, gitu dulu. Sekarang saya harus kembali ke realita studio dan UTS. See you folks!

~Marilah manusia datang semua
Berkumpul semua di Jalan Ganeca
Pakailah baju dan pakai celanamu
Bawa orang bawa uang dan jangan hilang
Pasar adalah seni adalah ITB adalah Pasar Seni ITB
Dan jangan ada banyak pertanyaan
Pokoknya jayalah Pasar Seni ITB~

Wednesday, September 29, 2010

So Far


Jadi saya sudah mulai mendapat tugas mendesain bangunan sederhana saya sendiri. Rasanya... agak takut tapi excited. Saya baru disuruh membuat maketnya dan baru jadi basenya. Hahahaha. Memang saya malas. Tapi sungguh, saya kembali bersyukur saya masuk jurusan Arsitektur. Walaupun memang saya sering mengeluh, sesungguhnya saya senang membuat maket, saya senang menggambar, bahkan saya senang membaca buku teks saya. Kuliah di Arsitektur jarang membosankan. Oh dan minggu ini saya dan teman-teman saya akan kuliah lapangan Arsitektur Nusantara dan Asia ke Kampung Naga! Ditunggu foto-foto dan ceritanya! Hehe.

Wednesday, September 22, 2010

Tuesday, September 14, 2010

Away We Go


Saya akan pergi ke Dieng, Ambarawa, lalu Semarang bareng beberapa kru LFM : Nunu, Cebi, Ian, dan Ai selama 2 hari 3 malam. Doakan kami selamat di jalan. Saya akan bawa banyak oleh-oleh foto dan cerita, mudah-mudahan. See ya as soon as I got Bandung. Ifa's over and out!

Thursday, September 9, 2010

TUMBLR!

Sementara ini saya hijrah dolo ke tumblr saya. Boleh dikunjungi kalau ada waktu, terima kasih :)

Monday, September 6, 2010

Sneakers Wearer




I was never a sneakers wearer. As a matter of fact, I hated sneakers. But after months being forced to wear sneakers, I finally fell in love with them. And come on, these Converse babies are so cool and cute at the same time. I bought them yesterday at Sency midnight sale, 30% off. Not bad.

I wore thrifted jeans jacket and tote bag, Topshop top, Zara jeans.

Saturday, September 4, 2010

Bambooza


Bamboo shelter Studio 7
It's our AR2100 assignment for this week, we finished it yesterday. We--me, Cathy, Gita, Bela, Henry, Aul, Iqbal, and David--made it with our own hand in about three days. Ain't it cool?
 

blogger templates | Make Money Online